Dataran Tinggi Dieng tidak hanya menyimpan pesona alam yang mistis dan hamparan candi Hindu tertua, tetapi juga fenomena budaya yang sangat unik melalui Ruwat Rambut Gimbal. Fenomena ini berkaitan dengan anak-anak asli wilayah tersebut yang secara alami tumbuh dengan rambut menggumpal atau gimbal tanpa melalui proses buatan. Masyarakat setempat meyakini bahwa anak-anak ini adalah titipan dari leluhur penjaga kawasan tersebut. Rambut gimbal tersebut dianggap sebagai pusaka atau beban spiritual yang tidak boleh dipotong sembarangan, melainkan harus melalui sebuah prosesi penyucian yang sangat sakral agar si anak terhindar dari kesialan atau penyakit di masa depan.
Pelaksanaan Ruwat Rambut Gimbal biasanya menjadi puncak dari festival budaya tahunan yang menarik ribuan wisatawan. Namun, di balik kemeriahannya, inti dari ritual ini adalah pengabulan permintaan si anak. Syarat utama agar rambut gimbal bisa dipotong adalah orang tua harus memenuhi satu permintaan khusus dari sang anak, tidak peduli seberapa aneh atau sulitnya permintaan tersebut. Ada anak yang meminta barang sederhana seperti telur puyuh, namun ada pula yang meminta hewan ternak atau barang elektronik. Masyarakat percaya jika permintaan tersebut tidak dikabulkan, rambut gimbal yang telah dipotong akan tumbuh kembali dan si anak akan terus didera demam tinggi yang tak kunjung sembuh.
Prosesi Ruwat Rambut Gimbal dimulai dengan kirab budaya, di mana anak-anak tersebut diarak keliling wilayah menuju kompleks candi. Setelah sampai di lokasi, mereka akan dijamu dengan berbagai sesaji yang kaya akan simbolisme, seperti tumpeng nasi kuning, ayam jago, dan jajanan pasar. Tahap yang paling krusial adalah saat pencucian rambut menggunakan air suci dari mata air keramat. Sang pemangku adat kemudian akan memotong rambut tersebut secara perlahan sambil merapalkan doa-doa keselamatan. Rambut yang telah dipotong kemudian dilarung ke telaga atau sungai yang mengalir jauh, sebagai simbol pengembalian titipan kepada alam semesta dan para leluhur.
Kehadiran Ruwat Rambut Gimbal di era modern menunjukkan betapa kuatnya ikatan masyarakat setempat dengan akar spiritualitas mereka. Meskipun sains mencoba menjelaskan fenomena ini sebagai faktor genetik atau kondisi lingkungan, masyarakat lebih memilih menjaga narasi mitologisnya sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas lokal. Ritual ini juga berfungsi sebagai perekat sosial, di mana seluruh warga bergotong-royong membantu kelancaran acara. Bagi keluarga sang anak, ritual ruwatan adalah momen pembebasan sekaligus rasa syukur karena anak mereka telah tumbuh besar dan kini siap menjalani kehidupan normal seperti anak-anak lainnya tanpa label “anak titipan”.