Dataran Tinggi Dieng di Banjarnegara memang tidak pernah berhenti memberikan kejutan bagi para pelancong, terutama saat fenomena embun upas atau bun upas muncul. Namun, belakangan ini muncul sebuah tren yang cukup unik dan menantang nyali, yaitu menikmati hidangan dingin di tengah cuaca yang membeku. Fenomena Kuliner Ekstrem ini menjadi perbincangan hangat di media sosial karena kontradiksi antara suhu lingkungan yang mencapai titik minus dengan jenis makanan yang dikonsumsi. Bagi sebagian orang, memakan es krim atau minuman dingin saat suhu di bawah nol derajat mungkin terdengar gila, namun bagi para pencari konten, ini adalah pengalaman yang wajib diabadikan.
Melakukan aktivitas Kuliner Ekstrem di Dieng memerlukan kesiapan fisik yang prima agar tubuh tidak mengalami syok termal. Bayangkan saat napas Anda mengeluarkan uap putih dan jari-jari tangan mulai mati rasa karena dingin, Anda justru memegang segelas es yang suhunya hampir sama dengan udara sekitar. Sensasi yang dirasakan adalah dingin yang menusuk hingga ke tulang, namun ada kepuasan psikologis tersendiri saat berhasil menaklukkan tantangan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa daya tarik wisata tidak hanya datang dari pemandangan alam, tetapi juga dari cara-cara baru yang tidak lazim dalam menikmati suasana lokal.
Banyak pedagang lokal di sekitar kawah dan candi mulai menangkap peluang dari tren Kuliner Ekstrem ini dengan menyediakan berbagai menu es yang unik. Meski terdengar tidak masuk akal, para pengunjung justru merasa bahwa rasa manis dari es terasa lebih tajam saat suhu udara dingin. Namun, para ahli kesehatan tetap menyarankan untuk tetap menyediakan minuman hangat sebagai pendamping setelah melakukan aksi nekat tersebut. Hal ini penting untuk menjaga kestabilan suhu inti tubuh agar tidak terjadi hipotermia ringan setelah berpose demi foto yang estetik di tengah kabut beku.
Mengapa tren Kuliner Ekstrem seperti ini bisa begitu cepat viral? Jawabannya terletak pada rasa penasaran audiens digital terhadap pengalaman yang di luar kebiasaan. Dieng memberikan panggung yang sempurna dengan latar belakang padang rumput yang memutih tertutup es, menciptakan kontras visual yang luar biasa antara dinginnya alam dan dinginnya makanan. Setiap tahunnya, saat musim kemarau tiba dan suhu turun drastis, ribuan orang berbondong-bondong datang ke Banjarnegara hanya untuk merasakan sensasi yang mungkin tidak bisa mereka temukan di belahan Indonesia lainnya.