Peran perempuan dalam politik legislatif Indonesia semakin signifikan, dan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memiliki tiga sosok kuat: Luluk Nur Hamidah, Nihayatul Wafiroh, dan Siti Mukaromah. Ketiganya dikenal sebagai Srikandi Fraksi PKB yang vokal dan gigih memperjuangkan isu-isu perempuan, anak, dan kesetaraan gender. Kontribusi mereka melampaui batas politik partisan, menyentuh kebutuhan fundamental masyarakat.
Nihayatul Wafiroh, yang akrab disapa Ninik, adalah salah satu yang fokus pada perlindungan anak dan keluarga. Ia aktif dalam mendorong legislasi yang menjamin hak-hak anak dan pencegahan kekerasan. Dengan latar belakang aktivis, Ninik membawa perspektif yang kaya akan pengalaman lapangan, memastikan undang-undang yang dihasilkan benar-benar implementatif di tingkat akar rumput.
Luluk Nur Hamidah dikenal karena pandangannya yang progresif dalam isu-isu demokrasi dan hak perempuan. Sebagai Srikandi Fraksi PKB yang kritis, Luluk sering menyuarakan pentingnya partisipasi politik perempuan yang lebih besar dan penegakan hukum yang adil bagi korban kekerasan seksual. Suaranya di parlemen menjadi alarm penting bagi isu-isu yang sering terpinggirkan dalam perdebatan politik.
Siti Mukaromah atau ‘Sisim’ melengkapi kekuatan Srikandi Fraksi PKB dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi perempuan dan buruh migran. Ia berjuang agar kebijakan ekonomi tidak hanya berpusat di kota besar, tetapi juga memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan di desa. Perhatiannya pada isu-isu grassroot mencerminkan ideologi kerakyatan yang diusung oleh PKB.
Kekuatan kolektif para Srikandi Fraksi PKB ini terletak pada kemampuan mereka untuk memadukan nilai-nilai keagamaan yang moderat dengan prinsip hak asasi manusia universal. Mereka membuktikan bahwa aktivisme berbasis nilai keislaman yang inklusif dapat menjadi fondasi yang kokoh untuk memperjuangkan kesetaraan dan keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Kontribusi nyata mereka terlihat dalam pengawalan berbagai RUU strategis, termasuk RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS). Mereka memastikan bahwa bahasa, semangat, dan sanksi dalam undang-undang tersebut benar-benar berpihak pada korban dan memberikan efek jera yang signifikan. Kehadiran mereka di Komisi VIII dan Komisi IX sangat krusial.
Perjuangan para Srikandi Fraksi PKB ini menjadi inspirasi bagi generasi muda perempuan untuk terlibat aktif dalam politik. Mereka menunjukkan bahwa DPR bukan hanya arena bagi laki-laki, tetapi tempat di mana suara perempuan memiliki kekuatan transformatif untuk menciptakan perubahan sosial dan legislasi yang lebih berkeadilan.
Kesimpulannya, Luluk, Nihayatul, dan Siti Mukaromah adalah pilar penting yang membawa isu perempuan dan anak ke pusat perdebatan politik. Srikandi Fraksi PKB ini tidak hanya berjuang di parlemen, tetapi juga merawat harapan akan masa depan Indonesia yang lebih setara, inklusif, dan peduli terhadap seluruh warganya.