Kabupaten Garut, Jawa Barat, dikenal memiliki potensi alam yang luar biasa, tidak hanya dari sisi pegunungan dan pemandian air panasnya, tetapi juga kekayaan perkebunannya. Belakangan ini, Garut aktif mengembangkan Wisata Agro sebagai motor penggerak baru ekonomi lokal. Integrasi antara sektor pertanian, perkebunan (mulai dari teh, kopi, hingga buah-buahan), dan pariwisata ini terbukti efektif dalam memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus membuka lapangan kerja baru. Konsep Wisata Agro ini menawarkan pengalaman edukatif, mulai dari proses menanam, memanen, hingga mengolah hasil bumi, yang sangat diminati oleh wisatawan perkotaan. Peningkatan kunjungan wisatawan ke sentra-sentra Wisata Agro menunjukkan keberhasilan model ini.
Salah satu lokasi Wisata Agro paling ikonik adalah Perkebunan Teh Dayeuh Manggung di Kecamatan Cilawu. Perkebunan teh yang telah berdiri sejak masa kolonial ini kini tidak hanya berfungsi sebagai lahan produksi, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang menawarkan tea walk dan penginapan bernuansa pedesaan. Diperkirakan, kunjungan wisatawan ke lokasi ini meningkat sebesar 40% pada semester pertama tahun 2025 dibandingkan periode pra-pandemi. Peningkatan ini didukung oleh program kemitraan antara pengelola perkebunan dan kelompok petani setempat, yang bertugas sebagai pemandu wisata dan penyedia kuliner lokal.
Selain teh, Garut juga kini tenar dengan kopi spesialisasinya, terutama varietas Kopi Arabika Garut (KAG). Munculnya banyak coffee shop dan pusat edukasi kopi di sekitar Perkebunan Kopi Cikajang menunjukkan diversifikasi dari model wisata agro. Sebagai contoh, Kelompok Tani Mekarwangi di Cikajang telah mendirikan pusat sangrai mandiri (independent roasting house) yang dikelola oleh 15 pemuda desa. Menurut data yang dirilis oleh Dinas Koperasi dan UKM Garut pada akhir Mei 2025, omset kelompok tani ini dari penjualan biji kopi langsung ke konsumen dan jasa tour edukasi kopi mencapai rata-rata Rp 60 juta per bulan, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan hanya menjual bahan mentah ke tengkulak.
Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah. Pada tanggal 5 September 2025, Bupati Garut meresmikan program “Akses Jalan Tani Wisata” senilai Rp 1,2 Miliar, yang bertujuan memperbaiki infrastruktur jalan menuju lima titik sentra agro unggulan, termasuk akses ke kebun teh dan kebun kopi di wilayah Garut Selatan. Peningkatan aksesibilitas ini merupakan kunci vital untuk memastikan wisatawan dapat mencapai lokasi dengan aman dan nyaman, yang pada akhirnya akan mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata. Dengan terus menanamkan investasi pada infrastruktur dan pemberdayaan komunitas, Garut membuktikan bahwa agro-tourism adalah model berkelanjutan yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani sambil mempertahankan kelestarian alam.