Musibah banjir bandang Padang kembali menjadi sorotan nasional setelah peristiwa terbaru yang terjadi pada awal pekan ini. Hujan deras yang mengguyur wilayah Sumatera Barat menyebabkan meluapnya beberapa sungai utama, merendam ribuan rumah dan mengganggu aktivitas ekonomi. Pertanyaan klasik yang selalu muncul setelah setiap bencana serupa adalah: kenapa kota ini selalu jadi langganan banjir? Fenomena banjir bandang Padang ini tidak hanya disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem, tetapi juga oleh masalah struktural dan lingkungan yang kompleks. Memahami kenapa kota ini selalu jadi langganan adalah langkah awal mitigasi yang efektif.
Laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang menyebutkan bahwa banjir bandang Padang terbaru terjadi pada Minggu malam, 14 Desember 2025, dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter di beberapa kawasan rendah seperti Bungus Teluk Kabung dan Kuranji. Penyebab utama yang membuat kenapa kota ini selalu jadi langganan banjir adalah posisi geografis Padang yang berada di cekungan yang dialiri oleh banyak sungai dari perbukitan Bukit Barisan. Kota ini juga memiliki curah hujan sangat tinggi, di atas rata-rata nasional.
Namun, faktor lingkungan juga sangat dominan. Deforestasi besar-besaran di kawasan hulu, terutama di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat, telah mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan. Hal ini diperburuk oleh tata ruang kota yang tidak terintegrasi dengan sistem drainase alami, serta masalah klasik pendangkalan sungai akibat sedimentasi dan sampah. Sedimentasi yang tinggi di Sungai Batang Arau membuat kapasitas tampung sungai menurun drastis, sehingga setiap hujan lebat pasti memicu luapan.
Pemerintah Kota Padang telah mengambil langkah serius untuk mengatasi masalah ini, termasuk program normalisasi sungai dan pembangunan Giant Sea Wall di kawasan pesisir. Dalam upaya penanganan bencana, Kapolresta Padang, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Aris Sumarso, S.H., M.H., telah mengerahkan tim SAR gabungan dari Brimob dan Polairud sejak Senin dini hari, 15 Desember 2025, untuk mengevakuasi warga yang terjebak. Kombes Pol Aris juga mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai, sebab itu merupakan salah satu pemicu utama banjir bandang Padang.
Tanpa perbaikan komprehensif pada tata ruang hulu dan hilir serta kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, Padang akan terus berjuang melawan siklus tahunan ini. Solusi jangka panjang harus fokus pada reboisasi hulu dan penertiban bangunan di bantaran sungai, agar tidak ada lagi alasan untuk bertanya kenapa kota ini selalu jadi langganan bencana.